March 13, 2008 - 08:30 AM
Stres Bisa Menimpa Pustakawan
Oleh :
Hari Subagijo *
Oky Widyanarko **
Stres di tempat kerja bukan suatu fenomena yang aneh.Stres dapat menghinggapi siapa saja tidak terkecuali seorang pustakawan. Rutinitas pekerjaan dan beban kerja yang tinggi di perpustakaan dapat menjadi penyebabnya. Bahkan sebuah perusahaan asuransi bernama Northwestern National Life Insurance Co. mengatakan “stress di tempat kerja benar-benar mewabah”. Sebenarnya stres itu apa ?.
Definisi Stres
National Safety Council mendefinisikan stres sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut. Bila stres mengancam fisik manusia maka gejala yang muncul dengan cepat dapat berupa respon terhadap denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, ketegangan otot meningkat, produksi keringat meningkat dan aktivitas metabolic meningkat. Referensi lain mengartikan stres sebagai kelebihan tuntutan atas kemampuan individu dalam memenuhi tuntutan tersebut.
Penyebab Pustakawan Stres
Bila melihat hasil riset yang dilakukan oleh Thomas Mann pada Oktober 2005 menunjukkan bahwa hampir 89% student di Amerika Serikat masih mengandalkan sumber informasi dalam bentuk cetak seperti buku dan journal yang ada di perpustakaan. Merekapun masih tergantung bantuan pustakawan dalam pencarian informasi, layanan peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku, jurnal atau sumber informasi dalam bentuk cetak lainnya, sehingga hal ini juga berpengaruh pada tingginya beban kerja seorang pustakawan. Coba bisa anda bayangkan jika semua student Harvard of University yang memiliki koleksi tidak kurang 15 juta buku dan 90 jaringan perpustakaan bergantung pada pustakawan maka entah apa jadinya tingkat kesibukan pustakawan disana. Kondisi dimana terlalu banyak hal yang harus dilakukan oleh pustakawan atau pekerja perpustakaan dan tidak cukup waktu untuk mengerjakannya adalah bibit-bibit timbulnya stres.
Penyebab stres sendiri dapat didefinisikan ke dalam beberapa kelompok yaitu :
- Penyebab organisasional
- Kurangnya otonomi dan kreativitas, harapan, tenggat waktu dan kuota yang tidak logis, relokasi pekerjaan untuk pustakawan, kurangnya pelatihan bagi pustakawan, karier yang melelahkan, hubungan dengan pimpinan kurang harmonis, dituntut selalu mengikuti perkembangan iptek yang up to date, bertambahnya tanggungjawab tanpa pertambahan kompensasi dan selalu menjadi oknum yang dikorbankan jika kinerja perpustakaan buruk
- Penyebab individu
- Pertentangan antara karier dan tanggungjawab keluarga, ketidakpastian ekonomi, kurangnya penghargaan atau apresiasi terhadap profesi pustakawan, kurangnya pengakuan kerja di bidang kepustakawanan, kejenuhan, ketidakpuasan kerja, kebosanan, konflik dengan rekan kerja (sesama pustakawan, pekerja perpustakaan, pimpinan)
- Penyebab lingkungan
- Buruknya iklim lingkungan kerja, Diskrimasi ras dalam pekerjaan, pelecehan seksual yang dilakukan rekan kerja, pimpinan atau user perpustakaan, kekerasan di tempat kerja, kemacetan saat akan berangkat atau pulang kerja
Upaya Penanggulangan
Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghindari stres bagi pustakawan sebagai individu adalah dengan mengikuti saran-saran berikut ini.:
- Pantaulah perilaku pribadi sendiri, buat catatan tentang perilaku itu, dan tentu saja, lanjutkan dengan mengubah perilaku tersebut (self-monitoring).
- Sesuaikan program aktivitas anda dengan jadwal yang cocok dengan kebiasaan anda (tailoring). Misalnya, bila anda tidak mampu bangun pagi, hindari melakukan aktivitas pagi hari.
- Berikan insentif, penghargaan, rewards, atau reinforcement apabila anda telah selesai melakukan suatu aktivitas atau program sesuai dengan rencana anda secara sukses. Insentif ini dapat berupa barang atau uang.
- Sama halnya seperti insentif berupa materi; senyum manis, pujian, atau ucapan sayang (social reinforcement/social support) dari orang lain ketika anda telah melakukan sesuatu dengan berhasil pun dapat menjadi insentif yang kuat dan bermanfaat.
- Buatlah kontrak pribadi (self-contracting) untuk melakukan hal-hal yang selama ini telah tertunda atau terabaikan. Misalnya, niat untuk bangun pagi, datang tidak terlambat, berdandan lebih cepat, dan lain-lain.
- Kalau perlu, buatlah kontrak (perjanjian) dengan orang-orang yang penting secara pribadi (significant others) seperti suami, istri, teman, dan lain-lain. Janji semacam ini akan memperkuat kemauan anda untuk mengubah apa yang ingin anda ubah.
- Ubahlah sesuatu secara bertahap, misalnya dari yang paling sederhana atau mudah ke yang paling kompleks atau sukar (shaping).
- Usahakan untuk mempunyai sesuatu atau seseorang yang dapat memperingati anda bahwa sesuatu perlu dilakukan atau sudah dilakukan.
- Jadilah anggota suatu kelompok (self-help groups) yang terdiri dari orang-orang dengan nasib atau kesuliatan yang sama (similar health and lifestyle problems). Ini dapat memberikan dukungan emosional bagi penderita stres.
Catatan Akhir
Bagaimanapun juga pustakawan mempunyai kemampuan terbatas maka harus ada upaya dari pihak organisasi (Yayasan, Universitas, Perpustakaan), individu (pustakawan sendiri) dan perbaikan lingkungan agar dapat mengurangi tekanan-tekanan yang dapat timbul kepada seorang pekerja sehingga sebagai profesional, pustakawan selalu terhindar dari gejala stres.
Daftar pustaka
-
Atkinson, jacqualine M.(a.b) F.X. Budiyanto, Mengatasi Stres di tempat kerja, Jakarta : Binarupa Aksara, 1997
- Mann, Thomas, Survey of Library User Studies, http://www.guild2910.org/google.htm, akses 5 Maret 2008
-
National Safety Council, Manajemen Stres, Jakarta : EGC, 2003
- Stres di Tempat Kerja, (http://www.geocities.com/dokterchandra/artikel_penanggulanganstress.html), akses 3 Maret 2008
* Staf Perpustakaan Universitas Surabaya ** Pustakawan Universitas Surabaya
January 30, 2008 - 05:16 PM
Islam Bukan Pseudo Religion
Oleh :
Oky Widyanarko
MENCARI TUHAN SESUNGGUHNYA
Sebutan “Pseudo Religion” dikenal banyak pada ilmu filsafat atau dalam bidang psikologi yang berarti agama semu. Dalam hal kehidupan religius, pengabdian sesungguhnya kepada yang serba “Maha” merupakan hakekat dari kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup dan bukan merupakan kebutuhan Tuhan. Ketika manusia lahir maka secara fitrah ia akan mencari di mana Tuhannya yang telah menciptakannya, memberikan makhluknya rezeki, menunjukkan jalan yang benar dsb. Jika manusia tidak bisa menemukan Tuhan sebenarnya , maka ia akan menciptakan Tuhan-Tuhan menurut versi mereka untuk dijadikan sesembahan dan menjadi pegangan hidup atau agama. Agama dapat dikatakan baik dan tidak bias dalam kesemuan belaka (pseudo religion) jika memenuhi 5 aspek antara lain Iman, syariah (atau membawa hukum), Ikhsan (akhlak), Amal (aplikasi dari syariah) dan ilmu ( Haryanto, Sentot, 2005 : 6). Islam turun 14 abad yang lalu untuk memenuhi semua aspek tersebut dan menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi manusia agar kembali kepada fitrahnya bahwa manusia sejak lahir ke dunia ini merupakan makhluk yang lemah dan akan tergantung kepada sesuatu yang “Maha” yaitu Allah SWT sebagai Tuhannya,
“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. AL A'RAAF : ayat 172)
· IBADAH
Islam diturunkan bukan hanya sebagai ideologis yang hanya diimani atau dipercaya, tetapi Islam juga menyampaikan hukum-hukum (syariah) yang harus ditaati oleh umatnya. Seperti penegasan Allah,
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah “ ( QS. Adz-Dzariyat (51) : 56 ).
Ibadah juga merupakan media pengakuan makhluk kepada Tuhannya bahwa hanya Allah sebagai penguasa tunggal makhluk dan alam semesta ini,
“ Dan tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al- Baqarah : ayat 163).
Pada hakekatnya Islam adalah agama monotheisme yang mengatur manusia agar melaksanakan hukum atau ketetapan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan. Hukum-hukum itu antara lain berisi larangan dan perintah termasuk didalamnya bagaimana tata cara beribadah kepada Allah, hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya.
· AMAL SEBAGAI APLIKASI SYARIAH
Agama yang semu kadang tidak mengenal amalan, hukum hanya sebagai pajangan saja atau hukum dapat dipermainkan yang akhirnya mereka langgar sendiri. Islam memperbaiki semua itu karena ibadah tanpa amalan sepertinya hanya omong kosong belaka,
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim.” (QS. Ali'Imran : ayat 57)
· ILMU MENYERTAI AMAL
Nabi Muhammad SAW pernah mewasiatkan kepada kita seperti dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari-Muslim,
“ Barang siapa beramal sesuatu perbuatan dan tidak didasarkan atas perintah kami (rasul), maka amalan itu tertolak” (HR. Bukhari Muslim).
Sebelum kita mengaplikasikan ibadah yang telah ditentukan hendaknya manusia dituntut untuk belajar dari syariah atau hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah melalui rasulnya,
“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya “ (QS. Al-Israa : 36)
· MENJADI IKHSAN TUJUAN AKHIR
Setelah beriman, adanya hukum dan aturan yang jelas, kemudian diaplikasikan dengan amalan-amalan dan ilmu maka tujuan agama yang sebenarnya adalah menjadikan pemeluknya berakhlak yang baik dan terpuji, seperti Allah SWT telah memuji agama ini,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….” (QS. ALI 'IMRAN : ayat 110)
Daftar Pustaka
ANCOK, Djamaludin dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islami : Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004
AL-QURAN Online, http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses 15 Januari 2008
HADIS Online, http://hadis.islamdotnet.com/, akses 15 Januari 2008
SALIM, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1st.Ed., Jakarta : Modern English Press, 1991
Oky Widyanarko, Pustakawan Universitas Surabaya, email.oky@ubaya.ac.id
January 30, 2008 - 04:36 PM
Akuntabilitas Sebuah Perpustakaan : Menuju Perpustakaan dengan Manajemen Modern [
pdf. version]
Oleh : Oky Widyanarko
Akuntabilitas dipandang penting dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Proses Akuntabilitas sudah lama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dan lembaga birokrat di pemerintahan dengan tujuan untuk dapat memastikan apakah perusahaan atau lembaga itu telah berhasil mencapai tujuan seperti yang direncanakan dalam strategi manajemennya . Ada tiga faktor penting dalam penilaian sebuah organisasi atau lembaga dalam kaitannya dengan akuntabilitas yaitu verifikasi penggunaan sumber daya yang tersedia, pencapaian target dan penilaian output yang dihasilkan. Baca lebih lengkap KLIK DISINI
January 5, 2008 - 01:36 PM
“Memorable Experience” in Library
Sebagai Upaya Strategi Marketing di Perpustakaan
Oleh :
Oky Widyanarko, SE
Ketika Ratih memasuki lobby perpustakaan dan kelihatan bingung mencari temannya yang mengajak janji bertemu di ruang diskusi, seorang petugas perpustakaan kemudian menghampiri sambil berkata “ ada yang bisa saya bantu mbak”. Ratihpun mengutarakan permasalahannya bahwa Dia mempunyai janji bertemu dengan seseorang di ruang diskusi perpustakaan tetapi setelah setengah jam Ratih menunggu dan mencari-cari di ruang tersebut ternyata temannya belum menampakkan batang hidungnya. Dia mencoba menghubungi lewat handphonenya ternyata pesawat temannya dimatikan. Kemudian petugas perpustakaan tersebut menawarkan kepada Ratih akan memanggilkan nama temannya lewat media pengeras suara yang ada di gedung perpustakaan. Setelah menunggu sekitar 2 menit nama temannya telah dipanggil lewat pengeras suara. Tidak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh seseorang datang menghapiri Ratih yang sudah terpaku lama menunggu di pintu masuk ruang diskusi. Itulah salah satu yang mengesankan dari layanan yang diberikan oleh petugas perpustakaan tadi dimana ketika seorang mahasiswi kalut menunggu temannya yang tidak muncul-muncul, seorang petugas perpustakaan mau membantu mencarikan lewat fasilitas yang ada di perpustakaan. Layanan tak terduga yang diberikan petugas perpustakaan kepada si Ratih tersebut dengan sendirinya akan membekas di benaknya sebagai pengalaman yang tak terlupakan.Kesan yang tidak terlupakan tersebut dalam ilmu marketing disebut memorable experience.
Ada beberapa tips untuk menghadapi user yang selalu membuat masalah dan banyak melakukan komplain.Salah satunya memberikan kesan yang tak terlupakan tadi sehingga akan merubah image si user kepada layanan perpustakaan. Tips tersebut, pertama adalah kita menganggap mereka para user sebagai adik atau teman yang selalu rewel dan minta perhatian. Kesabaran tentu kuncinya. Tapi jika kita mengetahui permasalahan dan solusi pemecahannya hal tersebut akan mempermudah petugas frontlines dalam menghadapi komplain user. Kedua, kesan simpatik diperlukan untuk menumbuhkan memorable experience user sehingga mereka merasa puas dengan layanan yang diberikan perpustakaan. Menampilkan kesan simpatik ini misalnya petugas membantu mencarikan buku di rak setelah melihat bahwa si mahasiwa kebingungan, meminjamkan tangga ketika melihat mahasiswa kesulitan mengambil buku yang berada pada rak tertinggi, meminta maaf jika layanan yang diberikan kurang memuaskan, mengucapkan selamat ulang tahun kepada user, mengucapkan selamat atas kelulusannya dan masih bayak hal yang bisa dilakukan, ketiga, utamakan kualitas layanan standar perpustakaan yang memenuhi mutu, misalnya buka dan tutup layanan tepat waktu, kebersihan, kerapian, kelengkapan fasilitas dan keramahtamahan petugas.
Upaya memberi kesan yang membekas kepada user saat ini merupakan strategi yang banyak diadopsi oleh beberapa perpustakaan modern di luar negeri.Pembinaan dan pelatihan pustakawan atau pekerja perpustakaan serta penyediaan fasilitas yang mendukung merupakan usaha untuk mendukung strategi tersebut dengan tujuan tentunya dapat mengunci loyalitas user perpustakaan atau “locking loyalty”. Beberapa Perpustakaan di luar negeri saat ini sudah dapat memberikan fasilitas kepada penyandang cacat misalnya atau membudayakan staf perpustakaan menjenguk user yang sedang sakit, mengucapkan belasungkawa melalui sms, email atau telepon kepada user yang ditimpa musibah,mengantarkan dompet atau handphone yang tertinggal ke tempat tinggal user, mengajak partisipasi user atau pemakai perpustakaan untuk merayakan hari besar keagamaan seperti natal atau tahun baru bersama keluarag besar pepustakaan. Semua itu dapat menjadi pelajaran bagi para pustakawan dan pekerja perpustakaan yang ada di Indonesia.
Daftar Pustaka
KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kartajaya on Positioning, Bandung : Mizan, 2006
KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kartajaya on Servicee, Bandung : Mizan, 2007
KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.1, Jakarta : Prehallindo, 1997
KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.2, Jakarta : Prehallindo, 1997
RUHIMAT,Perpustakaan Perlu Wajah Baru, http://www.jplh.or.id/elnv4/topik/artikel/perpustakaan_perlu_wajah_baru.html, akses tanggal 23 Nopember 2007
TROUT, Jack, Big Brands Big Trouble : Pelajaran Berharga dari Merk-Merk Ternama, Jakarta : Elangga, 2002
TROUT, Jack, Yang Terbaru tentang Strategi Bisnis Nomor Satu Dunia, Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama, 1997
*) Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya
December 19, 2007 - 12:38 PM
Dia Akan Datang dari Khurosan
Oleh : Oky Widyanarko
“ Dajjal akan muncul dari satu kawasan di timur yang disebut “ Khurosan “. Dia diikuti oleh banyak kaum yang wajah mereka seperti perisai berlapis “
( HR. Tirmidzi)
Ini merupakan nubuwat (Ramalan) sekaligus” warning” atau peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya sehubungan dengan kejadian-kejadian yang mewarnai pada akhir zaman nanti. Munculnya “Dajjal” dari Khurosan ini menyibak rangkaian misteri huru hara apa yang akan terjadi nanti. Siapakah Dajjal itu dan dimanakah letak Khurosan. Dajjal adalah seorang manusia pendusta yang akan menyesatkan banyak golongan umat manusia sehingga mereka dibawa kepada kekafiran di muka bumi ini. Ia sendiri mengaku sebagai Tuhan Pencipta alam semesta ini dengan menyebut Avatar. Sedangkan nama Khurosan adalah sebuah daerah yang sejak berabad-abad lalu telah ada di peta bumi ini. Daerah itu di wilayah Persia, tepatnya negara Iran. Letaknya sebelah tenggara ibukota Teheran. Saat ini banyak dimukimi minoritas Yahudi.
Bagaimanakah ciri-ciri si pendusta ini, dalam riwayatnya Nabi Muhammad SAW menyebutkan diantaranya dengan sabda beliau ,
“Sesungguhnya Dajjal satu matanya terhapus . Diatasnya tumbuh sekerat daging yang tebal. Diantara kedua biji matanya tertulis “Kafir” bisa dibaca oleh setiap mukmin, baik ia melek huruf maupun buta huruf” (HR. Muslim)”. Riwayat lain menyebutkan “ Dajjal itu mata kirinya buta, rambutnya lebat, dia membawa surga dan neraka. Maka yang kelihatan nerakanya adalah surga, sedangkan yang kelihatan surganya adalah neraka” (HR. Muslim).
Beberapa riwayat menyimpulkan bahwa dajjal merupakan manusia yang cacat dengan buta salah satu matanya, matanya yang lain menonjol keluar (melotot), berambut keriting, mandul atau tidak berkeluarga, tinggal dan membuat kerusakan di bumi selama empat puluh hari dimana satu hari seperti satu tahun, satu hari berikutnya seperti satu bulan, satu hari berikutnya seperti satu minggu, lalu seluruh hari-hari lainnya seperti hari biasa. Jika dimasa ini ada seorang manusia yang mengaku-aku sebagai avatar atau titisan Tuhan maka waspadalah karena Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan dan mengingatkan bahwa Allah SWT tidak sama dengan gambaran Dajjal tersebut. Allah SWT Maha Sempurna . Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah matanya. (As-Sa’di, Syaikh ‘Abdurrohman, 23)
Fitnah apa yang dibawa si pendusta ini, Salah seorang ulama Arab Saudi bernama Syaikh Abdurrohman As Sa’di , dalam bukunya berjudul Risalatani fi Fitnatid Dajjal wa Ya’juj wa Ma’juj menyebutkan ada tiga fitnah besar yang dibawa. Pertama , Atheisme dan syubhat-syubhat yang menyesatkan. Paham ini akan menimbukan kekafiran dimana umat manusia tidak percaya lagi kepada ke-Esa-an Allah SWT, tidak percaya akan kekuasaan Allah sebagai penolong dan cenderung mengikuti ajaran-ajaran yang diberikan oleh nabi-nabi palsu dan bahkan mereka berani mengaku dirinya titisan atau reikarnasi dari Allah SWT itu sendiri. Kedua, mengagungkan materialisme atau cinta duniawi dan takut mati, ketiga , penyebaran paham Zionis yang mendukung pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di muka bumi ini demi kepentingan sekelompok orang saja.
Bagaimana upaya mencegah agar kaum muslim terhindar dari syubhat atau paham-paham yang menyesatkan. Pertama, nabi bersabda,
“…barang siapa diantara kalian bertemu dengannya maka bacakanlah ayat-ayat permulaan surat Al-Kahfi kepadanya, karena ayat-ayat tersebut adalah pelindung kalian dari kejahatan fitnahnya” (HR. Muslim).
Kedua, menghindar darinya seperti yang disabdakan Rasulullah,
“Barang siapa mendengar Dajjal, hendaklah menghindar darinya. Sebab demi Allah, akan ada seorang lelaki yang mendatangi Dajjal lantaran mengiranya seorang mukmin, lantas mengikuti segala macam syubhat yang dihembuskannya” (Abu Dawud).
Ketiga, riwayat lain menyebutkan , jika Dajjal telah tiba maka berlindunglah ke kota Madinah karena hanya kota tersebut yang tidak berani dijamah si pendusta Dajjal dan pengikutnya,
“Rasa takut terhadap Al Masih Ad Dajjal tidak akan masuk ke kota Madinah. Pada waktu itu, kota Madinah memiliki tujuh pintu. Tiap pintunya dijaga oleh dua malaikat” (Shohihul Bukhori).
Daftar Pustaka
- Al-Quran Online, http://quran.islamdotnet.com/, akses tanggal 19 Desember 2007
- Hadis Online, http://hadis.islamdotnet.com/, akses tanggal 19 Desember 2007
Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya, email. oky@ubaya.ac.id
December 19, 2007 - 12:14 PM
Ya'juj dan Ma'juj Ancaman di Akhir Zaman
Oleh : Oky Widyanarko
" Hingga Apabila Telah Dibukakan (Benteng) Ya'juj dan Ma'juj, Sedangkan Mereka Turun dengan Cepatnya dari Seluruh Tempat yang Tinggi " (QS. Al-Anbiya : 96 ) "
Apabila pembaca pernah mengikuti sequel film layar lebar “The Lord of The Rings” dikisahkan terjadi peperangan antara komunitas jahat kerajaan Sauron melawan komunitas baik yg dipimpin Aragorn dan para hobitnya. Bagaimana kita melihat Saruman mempunyai pasukannya yang terdiri dari orang-orang “Orc” yang buas dan beringas menyusun sebuah kekuatan di gua-gua dan gunung-gunung. Komunitas “Orc” inilah yang kemudian melakukan perusakan, pembunuhan dan penghancuran kota-kota disekitarnya untuk merebut kekuasaan dan wilayah kerajaan lain dengan misi berusaha untuk menguasai dunia dan seisinya dengan pengaruh kekuatan hitam, sedangkan para ksatria putih pembela kebenaran dan hobit berusaha menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ternyata gambaran itu tidak saja hanya di film belaka, dalam kenyataanya di dunia fana ini sendiri banyak diramalkan akan datangnya kelompok yang akan membuat kehancuran dimuka bumi ini dan tentu saja Allah SWT dengan perantara Rasulnya sudah mewanti-wanti kepada manusia akan datangnya ancaman tersebut seperti pada ayat pembuka di diatas.
Salah satu rukun Iman yaitu setiap muslim percaya pada datangnya hari akhir atau hari Kiamat. Datangnya hari yang penuh kedahsyatan tersebut tiada seorangpun yang tahu. Bahkan Rasulullah sendiri hanya mengetahui tanda-tandanya saja, seperti sabda beliau,
“Sekali-kali kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda-tandanya, Kemudian beliau menyebut asap, Dajjal, binatang melata, Ya’juj dan Ma’juj, tenggelamnya tiga daratan yaitu di timur,barat dan jazirah arab….” (Hadist Shohih Muslim)
Siapakah gerangan Ya’juj dan Ma’juj ini…kenapa begitu pentingnya sehingga Allah SWT telah memperingatkan kepada kaum muslimin semua agar mewaspadai ancaman dari kaum yang satu ini. Bila pembaca merenungi kembali Quran surat Al-Kahfi maka dari sinilah permulaan datangnya bencana dari golongan Ya’juj dan Ma’juj ini. Bermula ketika DZulkarnain menaklukan kerajaan di barat dan di timur kemudian ketika akan kembali ke timur melalui utara, takkala sampai diantara dua gunung, ia menjumpai komunitas yang bersebelahan dengan kedua gunung tersebut yaitu dua gunung yang telah ada sejak Allah menciptakan bumi ini. Tapi diantara dua gunung tersebut terdapat celah atau gap pemisah. Dari gap inilah komunitas Ya’juj dan Ma’juj bisa menjamah komunitas lain yang berdekatan dengan mereka, lantas mereka melakukan perusakan, perampokan, pembunuhan dan penghancuran. Komunitas lain yang merasa terancam tersebut kemudian mengadukan hal tersebut kepada Dzulkarnain dan momen inipun diabadikan dalam QS. Al-Kahf : 94 yang berbunyi
“ Apakah kami perlu mengupah agar Anda Sudi membangun benteng yang memisahkan antara kami dan mereka” Maka Atas Seidzin Allah SWT , (QS. Al-Kahfi : 94)
Dzulkarnainpun membuat benteng menutup celah itu dari campuran besi dan cairan tembaga panas yang memisahkan mereka hingga waktunya telah tiba sampai di kemudian hari benteng penutup itupun akan terbuka dan mereka akan membuat fitnah dan kerusakan lagi sampai datangnya hari akhir nanti , seperti yang difirmankan oleh Allah SWT,
“ Hingga apabila telah dibukakan (benteng) Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan mereka turun dengan cepatnya dari seluruh tempat yang tinggi “ (QS. Al-Anbiya : 96)
Bagaimanakah ciri-ciri komunitas Ya’juj dan Ma’juj tersebut, Beberapa hadist nabi dan pendapat para Ulama memang tidak menyebutkan ciri fisik dan letak geografi secara detail hanya saja menyebutkan mereka dari segolongan manusia bukan dari bangsa jin atau malaikat, mereka dahulunya dua suku keturunan Yafid bin Nuh , nenek moyang mereka berasal dari Utara Asia , para ahli hadist menyebut mereka dengan Mongol dan Turkistan. Pendapat lainnya mengatakan dua suku itu adalah Tartar dan Mongol, sementara beberapa ulama lain menyebut mereka dengan Rusia dan Mongol dan ada juga menyebut mereka adalah suku Hongarian dan Mongol), mereka saat ini sudah menyebar dan berbaur ke seluruh komunitas yang ada di muka bumi ini ,
“ Dan pada hari itu Kami biarkan mereka berbaur antara satu sama lain…” (QS.Al-Kahf:99)
Kerusakan apa yang ditimbulkan mereka saat ini tentu tidak sama dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh nenek moyang mereka dulu, beberapa pendapat ulama mengatakan bahwa fitnah yang dibawa Ya’juj dan Ma’juj saat ini adalah paham atheisme, komunisme, kapitalis, materialisme, bid’ah (bidat) dan kemerosotan moral umat manusia. Nah mungkin pembaca lebih mengenal kelompok manakah mereka…Wa Allahualam .
Daftar Pustaka
- Al-Quran Digital Online, http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses tanggal 19 Desember 2007
- Hadis Online, http://hadis.islamdotnet.com/, akses tanggal 19 Desember 2007
Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya, email. oky@ubaya.ac.id
December 19, 2007 - 12:04 PM
Pemindahan Kiblat Tamparan Buat Yahudi [pdf.version]
Oleh : Oky Widyanarko
Sesungguhnya kelompok Yahudi di Makkah maupun Madinah pada saat itu banyak yang mencemooh Rasulullah ketika beliau masih hidup. Hingga saat ini pun masih banyak dari golongan mereka yang selalu menjelek-jelekkan beliau. Isu yang banyak disebarkan adalah bahwa sebenarnya Muhammad hanyalah seorang nabi palsu yang menjiplak Taurat dan agama yang dibawanya adalah Yahudi juga. Mereka juga mengatakan bahwa kiblat muslim sebenarnya adalah ke Yerusalem dan bukannya di kota Makkah. Baca lebih lengkap KLIK DISINI
December 18, 2007 - 04:53 PM
PENDEKATAN SEJARAH DALAM MENGELOLA ORGANISASI
REFLEKSI UBAYA DALAM RANGKA DIES KE 39
OLEH
Oky Widyanarko *)
MEMANDANG SEJARAH
Bagaimana Sejarah perkembangan Ubaya ketika pertama berdiri sampai saat ini. Jika pertanyaan ini diajukan kepada mahasiswa, karyawan atau dosen tentu dapat kita duga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, Sebut saja beberapa pelaku sejarah yang saat ini dapat kembali menceritakan perkembangan sejarah Ubaya, diantaranya nama-nama Stany Soebakir (Ketua Yayasan), Drs.Ec. Wibisono H, MS (Rektor Ubaya), Anton Prijatno,SH (Mantan Rektor), Prof. Dr. Eko Sugitario,SH, Prof Sutaryadi. Drs. Darmo Handoyo,Apt, Dra. Elisawati Wonohadi,Msi,Apt dan masih banyak dosen dan beberapa karyawan senior yang masih aktif. Sebenarnya apa itu Sejarah. Apa yang sudah terjadi, kita anggap sebagai sejarah atau boleh kita mengatakan rekonstruksi masa lalu ( Kuntowijoyo, 2005). Mendiang Proklamator Bung Karno pernah mengingatkan kita akan “Sejarah” dengan pidatonya yang terkenal di jaman revolusi dulu dengan istilah “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawannya. Bagaimanakah peran sejarah dalam kehidupan kita saat ini. Ada Tiga hal penting saat ini yang dapat kita jadikan pelajaran bagaimana kita sebagai komunitas yang hidup di Ubaya pada tingkat pengetahuan dan keterlibatan tiap orang yang berbeda-beda memandang sejarah dengan arif. Sejarah bukanlah mitos atau cerita bohong tapi juga jangan memandang sejarah sesuatu yang sangat empiris atau harus ilmiah. Sebaiknya kita memandang sejarah sebagai ilmu yang menghargai peran manusia, peran waktu, dan mempunyai makna sosial yang tinggi. Dengan mengetahui makna sejarah itu kita berharap dapat menjadi orang bijak dalam mengelola sebuah organisasi sebesar Ubaya ini
SEJARAH DALAM KONTEKS MANAJEMEN
Prinsip sejarah apa yang sebenarnya dapat dipakai dalam mengelola organisasi. Jawabannya sangat banyak tergantung bagaimana kita memanfaatkan dalam konteks wacana atau aplikasinya. Sejarah menghargai peran manusia sangant besar karena manusia dianggap sebagai pelaku sejarah itu sendiri. Dalam organisasi modal awal yang diperlukan ada 3 yaitu SDM, Kapital dan Sistem. Tanpa SDM organisasi tidak akan dapat berjalan. Maka perlu pelaku yaitu manusia itu sendiri. Pelaku Organisasi tersebut kemudian memanfaatkan Sistem dan Modal awal yang ada untuk menjalankan organisasi, yang dilakukan pertama adalah membuat planning atau rencana, mengadakan konsolidasi (Organizing), melaksanakan rencana (Actualisasi), melakukan control dan evaluasi. Langkah berikutnya bagaimana pelaku organisasi ini memikirkan efektifitas dan produktivitas atas usahanya. Maka pelaku organisasi harus menghargai waktu. Waktu yang telah lampau tidak dapat kita ulang. Dipastikan prinsip “Evaluasi” dalam organisasi selalu ada sebagai sarana untuk instrospeksi diri apa kita sudah benar dalam menjalankan organisasi. Waktu adalah uang demikian slogan yang selalu kita dengar tapi dalam sejarah, waktu adalah “perkembangan, kesinambungan, pengulangan dan perubahan” (Kuntowijoyo, 2005). Organisasi harus dinamis mengikuti perkembangan, tidak stagnan atau jalan ditempat. Dikelola secara berkesinambungan tidak hanya seumur jagung lalu mati, Proses dalam organisasi selalu mengikuti pola pengulangan dimana ada input yang dimasukkan dan berakhir dengan output yang dihasilkan. Dan jangan lupa tanpa inovasi organisasi hanya membuat jenuh di mata saja. Inovasi sebagai sarana perubahan sehingga mendukung perkembangan organisasi yang optimal. Ubaya tidak berdiri gagah dengan kaki sendiri ada faktor ekternal yang mendukungnya. Mahasiswa, orang tua, donator, pemerintah, pihak swasta yang memberi beasiswa dan masyarakat yang hidup disekitar Ubaya ini. Jadi keberhasilan organisasi dapat dipandang dengan seberapa besar makna sosial yang telah diberikan oleh Ubaya kepada faktor eksternal atau masyarakat di sekitarnya.
LAMPAU, SAAT INI DAN RAMALAN KE DEPAN
Prinsip ini harus diingat setiap pengambil keputusan di kampus ini. Jangan pernah tinggalkan Sejarah. Kegagalan-kegagalan yang lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga sebaliknya keberhasilan bisa menjadi cambuk agar kita tidak cepat puas karena tantangan didepan tentunya telah menanti. Waktu yang berjalan akan terus mendorong kita untuk berpikir apa yang akan kita lakukan saat ini atau hari ini. Ingat yang kita lakukan hari ini atau saat ini harus lebih baik daripada hari atau saat kemarin…jika tidak kita tidak pernah belajar dari sejarah alias melakukan pembodohan. Ibarat kita sedang mengendarai kendaraan yang selalu berjalan ke depan untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan sebelumnya, Kita tetap harus hati-hati dengan memperhatikan rambu-rambu, kondisi jalan di kiri dan kanan kendaraan dan hati-hati pula terhadap sesuatu yang terjadi di belakang kita. Sejarah itu ibarat kaca spion di kendaraan yang membantu kita melihat kejadian atau kondisi perjalanan yang baru saja dilewati. Sejarah akan membawa kita dalam kehati-hatian. Bagaimana dengan ramalan ke depan apakah sejarah tidak diperlukan lagi. Untuk melakukan forecasting maka perlu dibutuhkan data atau peristiwa lalu dan data atau peristiwa saat ini ( up to date). Dengan trend yang tergambar maka tidak ada salahnya jika organisasi selalu membuat ramalan-ramalan usahanya apakah akan berhasil atau tidak di masa datang.
MENYIAPKAN PELARI SPRINT, MARATHON DAN ESTAFET
Pelaku sejarah mempunyai batas waktu atau mempunyai dimensi waktu yang terbatas. Ada beberapa pendiri Ubaya saat itu tidak akan pernah menjadi pelaku sejarah ketika Ubaya telah megah seperti ini atau Ubaya 20 tahun kedepan misalnya. Mereka dibatasi dimensi waktu ketika menjelang usia tua ,memasuki masa pensiun, dan wafat. Demikian pula pelaku organisasi, mereka akan masuk, terlibat di dalamnya dan kemudian harus mengakhiri pengabdiannya terus silih berganti seiring berjalannya waktu. Maka sudah saatnya Ubaya perlu memikirkan model pelari cepat yang merupakan para pioneer atau penggagas ide sehingga perubahan yang terjadi di Ubaya diharapkan sangat cepat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian menyiapkan pelari marathon yang dapat membawa Ubaya bertahan dalam rotasi perputarannya dan persaingannya dengan kompetitor atau perguruan tinggi lain dan yang terakhir strategi pelari estafet yaitu kaderisasi SDM sebagai tahap kesinambungan agar pelaku-pelaku sejarah sekaligus sebagai pengelola atau pelaku organisasi Ubaya tidak punah di kemudian hari.
KESALAHAN YANG HARUS DIHINDARI
Tahap akhir dari prinsip manajemen adalah evaluasi. Diharapkan Manajer atau pelaku organisasi menghindari beberapa kesalahan yang sering terjadi misalnya pertama,, kesalahan Baconian , banyak manajer percaya bahwa usaha mereka berhasil dicapai karena harus bersifat empiris, lewat pengalaman atau pengamatan atau penginderaan. Mereka melupakan teori, konsep, ide, paradigma, praduga, hipotesis dan generalisasi. Semua itu mereka anggap sesuatu yang tidak penting, dengan pengalaman saja mereka beranggapan sudah cukup dapat menjalankan organisasi dengan baik. Tentunya hal ini tidak mendidik dimana kita hidup dalam dunia kampus. Kedua, Jangan mempermasalahkan dikotomi, saat ini sering organisasi selalu meributkan dikotomi karyawan dan dosen, fungsional dan bukan fungsional,anggota senat dan bukan senat ,mana civitas dan bukan civitas academi hanya karena alasan prinsip struktur organisasi yang kaku. Hal ini akan memacu konflik yang mengarah ke masalah diskriminasi dalam organisasi. Ketiga, kesalahan “Holisme” dimana manajer memilih suatu bagian penting dan menganggap bagian penting itu sudah mewakili keseluruhannya. Banyak organisasi yang sekarang ada membuat suatu kebijaksanaan hanya berdasarkan angket, survei, analisa, hipotesa dan melupakan kegiatan empiris lainnya. Pelaku organisasi tidak melihat,mengamati langsung apa yang terjadi di lapangan. Bukankah situasi yang real cepat sekali perubahannya dan sekali lagi organisasi selalu terjebak dengan membuat keputusan yang berdasarkan satu bagian yang dianggap penting untuk dapat mewakili keseluruhannya. Keempat, jangan memandang Organisasi hanya karena factor “estetika” dengan mengumbar dan menonjolkan kemegahan,kekayaan,keindahan saat ini karena bisa melupakan kelemahan-kelemahan yang masih kita . Cobalah bagaimana memandang Ubaya sebagai unsur yang terus berkembang karena disana sini masih membutuhkan kesempurnaan. Kelima, pelaku organisasi melupakan kegiatan “Verifikasi” dalam membuat keputusan. Jangan mudah terjebak oleh sumber-sumber yang tidak otentik dan tidak kredible. Selalu lakukan pengamatan (kegiatan Empiris) dan hasilkan keputusan yang rasional dan logis (Deduksi). Semoga dengan Visi The First University in Heart and Mind Ubaya tidak akan pernah melupakan sejarahnya dan memandang Ubaya sebagai organisasi yang menghargai pelaku-pelaku di dalamnya, menghargai waktu dan mempunyai makna sosial terhadap lingkungan di sekitarnya. Selamat Dies ke 39.
Oky Widyanarko, SE *)
Pustakawan Universitas Surabaya, email : oky@ubaya.ac.id
December 18, 2007 - 04:46 PM
Menjaga Identitas Muslim dengan Belajar dari Umat Terdahulu
Oleh : Oky Widyanarko
Siapakah yang dapat disebut muslim dan bagaimanakah muslim harus menjaga identitasnya. "Muslim" sendiri dapat berarti penganut atau umat beragama Islam, arti yang lebih luas yaitu orang-orang yang menyerahkan diri pada aturan hukum-hukum Allah. Islam sendiri dari bahasa Arab Al-Islam berarti berserah diri kepada Allah dan merupakan agama yang mengimani satu Tuhan (Monotheisme). Tiap umat yang diciptakan Allah SWT memiliki syariat dan ciri tersendiri. Demikian juga dengan muslim yang berbeda dengan umat lain yang pernah diciptakan oleh Allah. Sebelumnya sudah banyak umat yang diciptakan oleh Allah seperti umat Nuh, umat Idris, firaun, kaum Tsamud, kaum Luth dan Bani Israil. Muslim sendiri merupakan umat yang termuda dan risalahnya dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, Bagaimana kondisi umat terdahulu sehingga sampai detik ini banyak yang sudah musnah. Sebut saja Firaun dan pengikutnya yang karena keingkarannya ditenggelamkan di laut Merah, umat Luth yang diluluhlantakan karena kebejatan moralnya, umat Nuh yang ditenggelamkan, Kaum Tsamud yang dihancurkan karena ketidaktaatannya terhadap hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah. Muslim harus dapat mengambil pelajaran dari umat terdahulu dan menjadikan muslim berbeda sehingga kita tetap dicintai oleh Allah sebagai Tuhan penguasa alam ini. Langkah apa yang sebaiknya kita lakukan agar identitas tersebut tetap terjaga, antara lain dengan,
1. Menerima Islam seutuhnya
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” ( QS. Al-Baqarah : 208 )
Demikianlah perintah Allah SWT dalam firman diatas bahwa muslim yang beriman harus menerima Islam sebagai agama secara keseluruhan, keseluruhan dalam arti apa yaitu menjalankan 5 rukun Islam dan 6 rukun Iman. Bukan hanya itu saja, mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari pelajaran yang didapat dari aturan atau hukum Allah baik dari Al-Quran maupun Hadis Nabi. Dua dasar penting dari Islam sendiri adalah Meng-Esa-kan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang menjadi sesembahan dan mengakui Muhammad sebagai Rasul yang diutus. Hal ini menjadi identitas muslim yang berbeda dengan umat lain seperti halnya Bani Israil yang dilaknat Allah karena keingkarannya terhadap ajaran Tauhid dan Membunuh Rasul-rasul yang diutusnya seperti dalam firmannya,
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. ( QS. Al-Baqarah : 083 )
Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil , dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. ( QS. Al-Maaidah : 070 )
2. Mengamalkan Al-Quran dan Hadist
Muslim wajib mengamalkan apa yang terkandung dalam kitab suci mereka yaitu Al-Quran karena Al-Quran diturunkan oleh Allah sebagai pembeda antara kebenaran dan kebathilan, kitab petunjuk, aturan hukum, pemberi peringatan dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman bahkan untuk alam semesta. Janganlah berbuat seperti umat-umat terdahulu yang karena mengingkari ayat-ayat Allah, kemudian mereka mendapat kerugian di dunia dan akhirat, seperti dalam firmannya,
“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).” (QS.Al-Baqarah (Sapi betina) ayat 101)
“ Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS.Al-Baqarah (Sapi betina) ayat 39)
3. Kesombongan bukanlah Identitas Muslim
Sifat sombong sangat dibenci Allah maka seorang muslim wajib menjauhi sifat tersebut karena umat-umat terdahulu banyak mendapat adzab dari Allah karena kesombongannya seperti halnya Firaun, Qorun dan umat Israil, Allah telah memperingatkan dalam firmannya,
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar". (QS. Al-Israa : 004 )
"kepada Fir`aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong." (QS. Al-Muminuun : 046)
“ Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (AL QASHASH (CERITA) ayat 76)
“Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS. Al-Qashash (Cerita) ayat 78)
4. Jihad, siapa takut
Dalam Islam, arti kata Jihad adalah berjuang dengan sungguh-sungguh.Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad tidak selalu identik dengan perang dan peperangan tetapi juga dapat berarti berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada umat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dengan segala pengorbanannya baik harta benda dan jiwa.Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman berkaitan dengan jihad seperti dalam firmannya,
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (SURAT AT TAUBAH (Pengampunan) ayat 20)
Menegakkan kembali jihad di sisi Allah merupakan identitas muslim dan Allah sangat memuji mereka-mereka yang berjihad di jalan Allah. Bagaimanakah Umat-umat terdahulu, mereka dilaknat karena ingkar tehadap perintah Jihad, seperti Umat Israil,
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang." Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?" Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 246)
Identitas yang sudah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW sudah menjadi kewajiban muslim untuk dijaga. Sehingga kita tetap dapat dipandang oleh Allah sebagai umat yang terbaik seperti Allah telah memuji kita,
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” ( QS. Al-Baqarah : 143 )
" Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (ALI 'IMRAN (KELUARGA 'IMRAN) ayat 110)
Oky Widyanarko
*) Pustakawan Universitas Surabaya, Email oky@ubaya.ac.id
December 18, 2007 - 04:40 PM
Positioning Dalam Pemasaran Layanan Perpustakaan
Oleh Oky Widyanarko
ABSTRAK
Positioning merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan modern saat ini. Perpustakaan yang awalnya mempunyai konsep sebagai institusi nirlaba mulai mengadopsi strategi ini untuk berkembang menjadi perpustakaan modern yang inovatif dan berusaha kreatif menjual produk jasanya. Positioning sendiri tidak terlepas dari hal-hal yang bersifat regulasi, Membangun citra atau brand image pasar dan melakukan repositioning dan strategi diferensiasi jika dikemudain hari produk mereka masuk ke dalam hukum “product Life Cycle”
Strategi pemasaran sangat penting dalam menentukan perjalanan ke depan sebuah perusahaan agar tetap eksis dalam kancah persaingan usaha. Strategi pemasaran modern yang dikembangkan Hermawan Kartajaya dengan konsep sembilan elemen pemasarannya atau milik Michael Porter dengan model “ The Five Forces” banyak diadopsi dan diadaptasikan di banyak perusahaan kelas dunia, misalnya Intel, Lux, Amazon dan The Body Shop. Salah satu unsur terpenting dari strategi pemasaran itu adalah “positioning”. Apakan strategi positioning juga dapat diadaptasikan kepada perusahaan jasa. Jawabannya adalah pasti dapat,termasuk di dalamnya sebuah institusi perpustakaan yang dulu selalu dikenal sebagai organisasi nirlaba. Perpustakaan modern saat ini tentu telah banyak merubah strategi organisasinya agar tetap eksis dalam kompetisi dengan melakukan “reposition” visi dan misi organisasi termasuk menjual produk layanan informasi kepada segmen pasar yang telah mereka tentukan sendiri di masa awal ketika berdiri. Perpustakaan Perguruan tinggi mempunyai segmen pasar yaitu kelompok mahasiswa dan pengajar, perpustakaan umum atau daerah mempunyai segmen pasar masyarakat umum demikian pula dengan perpustakaan khusus yang menjual produk jasanya kepada kalangan tertentu atau khusus.
“POSITIONING” APA DAN BAGAIMANA
Dalam definisi tradisional, Positioning sering disebut sebagai strategi untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang kita tawarkan (Kartajaya, Hermawan : 2004 :11). Hermawan Kartajaya dalam bukunya “ Hermawan Kartajaya on Positioning mempunyai definisi sendiri. Positioning didefinisikan sebagai the strategy to lead your customer credible, yaitu upaya mengarahkan pelanggan anda secara kredibel atau dengan kata lain upaya untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan pelanggan. Semakin kredibel anda di mata pelanggan, semakin kukuh pula positioning anda.
PERAN REGULASI DALAM MENENTUKAN “POSITIONING” PERPUSTAKAAN
Peran Regulasi dapat menentukan positioning sebuah perpustakaan, sebagai contoh dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, maka Perpustakaan Nasional dan jaringan dibawahnya merupakan satu-satunya organisasi yang mempunyai otoritas dalam pengumpulan koleksi-koleksi karya cetak dan karya rekam dari seluruh penerbit di Indonesia. Positioning perpustakaan Nasional sangat kuat tentunya dengan brand image perpustakaan terlengkap koleksinya di Indonesia, sehingga pemustaka/pengguna perpustakaan otomastis akan tergantung kepada perpustakaan Nasional. Contoh lain adalah Perpustakaan Umum DKI dengan SKGubernur No. 499 tahun 1996. Positioning Perpusda DKI akan semakin kuat karena dengan regulasi tersebut masing-masing unit atau satuan kerja di lingkungan Pemprov DKI wajib memberikan sembilan karya cetak untuk dikoleksi Perpusda DKI. Perpusda DKI akan mempunyai brand image di masyarakat sebagai perpustakaan dengan koleksi lokal DKI Jakarta terlengkap di Indonesia tentunya. Pada beberapa Perpustakaan Perguruan Tinggi, Statuta Universitas merupakan senjata ampuh untuk memposisikan Perpustakaan sebagai “ center of learning”.
MOTTO PERPUSTAKAAN DAN POSITIONING
Motto dapat dijadikan sebagai alat atau senjata untuk mengarahkan masyarakat agar mengetahui Positioning sebuah perusahaan dalam menjual produk barang atau jasanya. Sebagai contoh Coca Cola yang memposisikan dirinya sebagai “ The Real Thing” alias Cola yang Orisinil dan Klasik. Dengan semboyan atau motto tersebut Coca Cola berusaha mengarahkan atau memberi citra kepada masyarakat bahwa selain Coca Cola minuman Cola lainnya adalah pasti palsu. Sebaliknya sebagai tandingan atau competitor, Pepsi berusaha membangun citra dirinya dengan sebutan “ Generation Next” dan menganggap Coca Cola sebagai terlalu tua. Jika diibaratkan sebagai perusahaan yang menjual jasa maka perpustakaan dalam menentukan posisinya dapat memberikan semboyan atau motto yang mudah dikenal oleh masyarakat sehingga brand image terhadap produk dan perpustakaan sebagai produsennya akan diingat selalu oleh pengguna perpustakaan. Di beberapa perpustakaan Amerika Serikat telah banyak yang mengadopsi positioning ini, diantaranya Biomedical Library University of California dengan “"Connect, reflect, research, discover" , Royal Hospital Central library dengan motto “Quality has to be Seen to be Believed, Perpustakaan Universitas Minnesota di AS yang dikenal sebagai “ Human Right Of Library”. Di Indonesia ada beberapa perpustakaan yang telah mengembangkan strategi positioning ini seperti perpustakaan Petra Surabaya dengan konsep “Perpustakaan Tanpa Dinding (Library Without Walls)” ketika memulai terbentuknya jaringan PetraNet dengan menyediakan layanan akses internet bagi penggunanya dan mulai mengembangkan layanan online pada tahun 1996, Perpustakaan Universitas Surabaya dengan “One Stop Information Service Provider”, Moto “melayani dengan cinta” milik perpustakaan ITS.
BRAND IMAGE DALAM PEMASARAN LAYANAN PERPUSTAKAAN
Menentukan “ Brand Image” yang akan dijual oleh perpustakaan sangatlah penting. Beberapa marketer dalam dunia marketing membedakan aspek psikologi merk dengan aspek pengalaman. Aspek pengalaman merupakan gabungan seluruh point pengalaman berinteraksi dengan merk, atau sering disebut brand experience. Aspek psikologis, sering direferensikan sebagai brand image, adalah citra yang dibangun dalam alam bawah sadar konsumen melalui informasi dan ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau jasa. Pendekatan yang menyeluruh dalam membangun merk meliputi struktur merk, bisnis dan manusia yang terlibat dalam produk. Sebagai Contoh Perpustakaan Umum DKI Jakarta tentu mempunyai produk local content mengenai Jakarta baik buku tentang sejarah Jakarta, Peraturan daerah, statistik kota Jakarta dan sebagainya, sehingga produk atau koleksi yang dimiliki oleh perpusda DKI Jakarta dapat dijadikan brand image bagi perpustakaan tersebut. Dengan brand image tersebut, Perpusda DKI Jakarta mencoba membangun citra dan mengarahkan masyarakat sehingga mereka para pemustaka atau pengguna perpustakaan mengerti bahwa hanya Perpusda DKI Jakarta sajalah yang memiliki koleksi terlengkap mengenai seluk beluk kota Jakarta. Strategi tersebut juga dikembangkan oleh beberapa perpustakaan daerah di era 80-an dengan produk layanan terkenalnya mobil perpustakaan keliling, PDII-LIPI dengan produk kemasan informasi digitalnya, Perpustakaan Khusus lainnya seperti Perpustakaan Bung Hatta, Japan Foundation ,British Council, Produk Spectra dari Perpustakaan Petra, KCM dari Kompas, Sampoerna Corner milik perpustakaan ITS, Amcor milik perpustakaan Universitas Airlangga Surabaya.
INOVATIF DAN KREATIF
Agar positioning tetap kuat maka perpustakaan yang diibaratkan sebagai perusahaan jasa yang menyediakan informasi harus tetap inovatif dan kreatif dalam membangun brand image kepada pengguna perpustakaan. Positioning akan berubah jika nantinya ada kompetitor yang lebih baik dalam menawarkan jasa dan berhasil membangun brand image yang ditawarkan. Tapi hukum alam marketing tentunya akan terus berjalan yaitu product life cycle dimana produk yang telah menjadi unggulan dan merupakan the best brand image bagi perpustakaan akan ada masa surutnya, maka kebijaksanaan internal Perpustakaan harus segera melakukan repositioning dengan melakukan diferensiasi produk jasa. Pustakawan dan SDM Perpustakaan yang inovatif dan kreatiflah sebagai kunci, maka benar kata Jact Trout seorang pakar marketing yaitu diferentiatie or Die , berbeda atau mati.
PENUTUP
Dalam menentukan positioning, sebuah perusahaan tidak terlepas dari hal-hal yang menguntungkan maupun merugikan bagi dirinya. Regulasi adalah salah satu penyebabnya. Ketika zaman orde baru sebelum diberlakukannya UU anti Monopoli maka posisi perusahaan sekelas Telkom dan Pertamina sangant kuat. Tanpa harus bermarketingpun mereka akan tetap dapat memeras pundi-pundi emas. Sebaliknya ketika diberlakukan UU anti monopoli maka perusahaan-perusahaan tersebut segera melakukan repositioning dan differensiasi. Perpustakaan bisa mengambil pelajaran dari strategi marketing modern. Regulasi dalam menetukan keberadaan perpustakaan dapat menjadi modal awal untuk menentukan segmen pasar yang dituju dan menentukan brand image kepada calon user atau pengguna sebelum produk jasa yang akan ditawarkan di pasarkan. Perpustakaan jangan terlalu takut mengambil resiko dengan berpikir apakah produk yang ditawarkan akan laku atau tidak karena yang menilai sebuah produk adalah user atau pengguna dengan berbagai persepsi yang berkembang di masyarakat. Perpustakaan tentunya hanya berusaha melakukan positioning agar brand imagenya tetap kuat di mata user atau pengguna perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA
* Biomedical Library, Dramatically Renovated, Plans Colorful Dedication, http://www.universityofcalifornia.edu/news/article/8471, akses 24 Nopember 2007
* Central Medical Library Royal Hospital, http://www.rhcml.com/about.asp, diakses 24 Nopember 2007
* Dengan Diberlakukannya Otonomi Daerah, UU No. 4/1990 tentang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Perlu Direvisi, http://www.pnri.go.id/official_v2005.5/activities/news/index.asp?box=detail&id=200671215117&from_box=list&page=15&search_keyword=, akses tanggal 23 Nopember 2007
* Djatin, Jusni dan Sri Hartinah, PENGEMASAN DAN PEMASARAN INFORMASI : PENGALAMAN PDII-LIPI, www.consal.org.sg/webupload/forums/attachments/2277.doc, akses 29 Nopember 2007
* KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kertajaya On Positioning, Bandung : Mizan, 2006
* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.1, Jakarta : Prehallindo, 1997
* KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.2, Jakarta : Prehallindo, 1997
* ·Perpustakaan ITS: Melayani DenganCinta,http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=2715, akses 29 Nopember 2007
* RUHIMAT,Perpustakaan Perlu Wajah Baru, http://www.jplh.or.id/elnv4/topik/artikel/perpustakaan_perlu_wajah_baru.html, akses tanggal 23 Nopember 2007
* TROUT, Jack, Big Brands Big Trouble : Pelajaran Berharga dari Merk-Merk Ternama, Jakarta : Elangga, 2002
* TROUT, Jack, Yang Terbaru tentang Strategi Bisnis Nomor Satu Dunia, Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama, 1997
*) Oky Widyanarko,SE
Pustakawan Universitas Surabaya, Email : oky@ubaya.ac.id
December 18, 2007 - 04:31 PM
Menegakkan Kembali Epistemologi Yang Islami
Oleh : Oky Widyanarko
Peradaban Islam sesungguhnya telah berkembang jauh sebelum bangsa-bangsa barat banyak melakukan berbagai penemuan dalam bidang teknologi. Sebut saja pakar-pakar muslim seperti Ibnu Sina yang merupakan filsuf dan ahli dalam kedokteran. Ibnu Sina juga merupakan Bapak kedokteran Modern, Ibnu Khaldun seorang pakar ekonomi, historiografi dan sosiologi, Al-Farabi yang mempunyai kontribusi besar pada bidang matematika dan Farmasi.Pada zaman keemasan Islam tersebut para Sarjana Muslim sebagai pelopor perkembangan ilmu dan teknologi dalam mengaplikasikan ilmunya tidak terlepas dari peran agamanya yaitu Islam. Sebagai sumber utama pengembangan ilmunya tentu saja kembali kepada Al-Quran dan Hadist Nabi. Kemerosotan peradaban Islam di abad modern saat ini tentunya disebabkan umat muslim sendiri telah melupakan epistomologi yang seharusnya diaplikasikan secara islami. Padahal Allah telah berfirman :
"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat, "(QS : AL HAJJ (HAJI) ayat 3)
Bagaimanakah kita sebagai umat Islam, sebagai intelektual muslim, sebagai sarjana dan calon-calon sarjana muslim menyikapi perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban modern saat ini yang kadangkala jika disimak dan diamati banyak bertentangan dengan moral dan akhlak kehidupan yang islami. Misalnya saja perkembangan teknologi nuklir yang akhirnya digunakan untuk membunuh satu sama lain, penemuan farmasi yang ternyata disalah gunakan untuk merusak generasi muda dengan "narkoba" dan obat-obatan psikotropika, rekayasa genetika yang mungkin nantinya mengaburkan silsilah keturunan. Alhasil memang peradaban modern yang tidak didampingi oleh akhlak yang baik akan menuju kehancuran. Untuk itu para intelektual muslim harus berani mendefenisikan kembali Epistomologi modern saat ini yang sudah terjerumus ke dalam kesesatan.Ada baiknya kita berusaha kembali membawa epistemologi menjadi epistemologi yang Islami. Epistemologi sendiri berarti,
"Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan."�
"Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis"
Epistemologi harus dikembalikan menjadi epistemologi yang Islami dalam arti mengedepankan 2 unsur yang seimbang yaitu ilmu pengetahuan berdasar ayat-ayat yang bersifat "Kauliyah" atau Empirik termasuk didalamya rasio, panca indera dan intuisi (hati), kedua, ayat-ayat "Kauniyah" atau berdasarkan sumber-sumber formal Islam seperti wahyu dalam Al-Quran yang menerangkan manusia tentang sesuatu bersifat meta-empirik atau supra rasional dan Hadist Nabi. Kenyataan empirik mungkin dapat dibuktikan dengan metodologi penelitian yang sudah berkembang saat ini, tapi untuk ayat-ayat " Kauniyah" maka hati atau intuisilah yang memegang peranan dimana ketaqwaan dan keimanan seorang akan mempengaruhi hal tersebut, Allah sendiri telah menyampaikan firmannya :
" Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya," (QS : AL HAJJ (HAJI) ayat 8)
Peringatan Allah tersebut ditujukan kepada orang-orang yang hanya menggunakan ayat-ayat Kauliyah atau empirik saja tanpa ada pertanggungjawabannya terhadap sesuatu yang ghaib atau meta-empirik dalam hal ini tentunya keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan mereka, sebagai yang Maha Tahu. Para intelektual saat ini seakan-akan mulai terkena syndrome atheisme dimana semua kepandaiannya dan kejeniusannya dalam penemuan-penemuan ilmu dan teknologi karena hasil jerih payahnya sendiri dalam menggunakan akal dan panca inderanya. Semoga kita semua dijauhi dari pengaruh dan sifat-sifat tersebut dan sebagai intelektual muslim berupaya untuk mengembalikan epistemologi menjadi epistemologi yang Islami diakhiri dengan doa,
"dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS :THAAHAA ayat 114)"
Daftar Pustaka :
Al-Quran Online,http://quran.islamdotnet.com/cari.php, akses tanggal 15 Desember 2007
Ancok, DJamaludin dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Yang Islami : Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004
Epistemologi, http://id.wikipedia.org/wiki/Epistemologi, akses tanggal 15 Desember 2007
Salim, Peter dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1st.ed., Jakarta : Modern English Press, 1991
Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya, Email oky@ubaya.ac.id
December 18, 2007 - 12:52 PM
Menanti Statuta Dari ROMA : Sebagai Upaya Penegakan HAM di Indonesia
Oleh : Oky Widyanarko
PENDAHULUAN
Hari Hak Asasi Manusia dirayakan tiap tahun oleh banyak negara di seluruh dunia setiap tanggal 10 Desember. Ini dinyatakan oleh International Humanist and Ethical Union (IHEU) sebagai hari resmi perayaan kaum humanisme. Tanggal ini dipilih untuk menghormati Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengadopsi dan memproklamasikan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), sebuah pernyataan global tentang hak asasi manusia, pada 10 Desember 1948. Peringatan dimulai sejak 1950 ketika Majelis Umum mengundang semua negara dan organisasi yang peduli untuk merayakan. Salah satu pasal yang terkenal dari deklari tersebut adalah :
"Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Mereka dikaruniai akal budi dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu dengan yang lain dalam semangat persaudaraan. -Pasal 1, Deklarasi Universal HAM"
JANJI YANG DINANTI DAN KENDALA YANG DIHADAPI
Pada 11 Mei 2004, Presiden Megawati menorehkan janji akan meratifikasi Rome Statute of International Criminal Court (ICC) atau Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional pada tahun 2008. Janji tersebut dituangkan secara formal dalam Keppres No. 40 Tahun 2004 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) HAM 2004-2009.Sekarang kemudi pemerintahan telah beralih ke Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), namun janji yang sudah tersampaikan tetap melekat. Beberapa pihak diantaranya Ikatan Korban Orang Hilang Indonesia (IKOHI) dan Kontras telah mendesak agar pemerintah segera meratifikasi statuta Roma sejak awal pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhono. Bahkan saat ini desakan itu tidak lagi harus meratifikasi tetapi bagaimana memastikan pemerintah meratifikasi statuta Roma pada tahun 2008 sebagaimana ditetapkan dalam RAN HAM dan merealisasikan janji-janji mantan presiden Megawati dan Presiden SBY. Banyak kendala dalam ratifikasi statuta ini bagi pemerintah, meskipun dalam skala prioritas RANHAM, persiapan untuk meratifikasi Statuta Roma baru akan dilaksanakan pada tahun 2008. Namun, rencana tersebut masih banyak memerlukan pertimbangan-pertimbangan lain. Menurut mantan Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza Mahendra yang juga merangkap sebagai Ketua RANHAM II pada waktu itu, Statuta Roma tidak mudah untuk diratifikasi. Sebab, ada beberapa hal yang masih menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk meratifikasi Statuta Roma yang berisikan instrumen International Criminal Court (ICC). Salah satu hal yang tidak disetujui dalam Statuta Roma ini adalah peran dan kedudukan Jaksa Internasional. Yusril mengemukakan, kehadiran Jaksa Internasional bisa saja membawa masalah bagi kedaulatan negara. Bahkan jaksa Internasional bisa langsung masuk tanpa kompromi dengan negara yang bersangkutan. Inilah yang menurutnya dapat membahayakan bagi kedaulatan negara. Hak penuh bagi Jaksa Internasional untuk melakukan penyelidikan hanya berdasarkan dari laporan yang masuk ke ICC semata. Hal yang disampaikan Yusril senada dengan alasan-alasan yang disampaikan oleh Amerika Serikat untuk menentang Statuta Roma. Salah satu alasan AS bertolak belakang dengan Statuta Roma adalah ketidakpercayaan AS terhadap peran Jaksa Internasional. Pertimbangan-pertimbangan diatas dapat memperlambat langkah-langkah untuk meratifikasi Statuta Roma yang menjadi salah satu tonggak penghormatan HAM. Sebab, berdasarkan pasal 120 Statuta Roma, ratifikasi/aksesi tidak dapat direservasi. Artinya, untuk meratifikasi berarti menyetujui seluruh isi pasal tanpa terkecuali.
PERUBAHAN MENYELURUH
Ratifikasi Statuta Roma diharapkan akan membawa dampak pada penguatan dan perbaikan mekanisme pengadilan HAM. Ratifikasi Statuta Roma juga akan menjadikan dasar yang kuat bagi perlunya melakukan amandemen mendasar atas peraturan perundang-undangan tentang HAM, terutama UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM yang selama ini terbukti tidak efektif. Ratifikasi Statuta Roma tidak serta-merta akan membukakan jalan bagi sejumlah kasus pelanggaran HAM berat masa lalu untuk dibawa ke Mahkamah Kejahatan Internasional atau International Criminal Court (ICC). Pasalnya, ICC secara tegas menyatakan dirinya tidak berlaku secara retroaktif atau berlaku surut. ICC hanya berkenan menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi setelah Statuta Roma mulai berlaku (entry into force). Statuta Roma mulai dinyatakan berlaku sejak 1 Juli 2002, setelah 60 negara menyerahkan instrumen ratifikasinya. Sehingga penundaan ratifikasi pemerintah karena kekhawatiran kasus-kasus pelanggaran berat yang terjadi di Indonesia sebelum 2002 seperti kasus Tanjung Priok, Timor-Timor, DOM Aceh, Papua akan dipermasalahkan tidak beralasan. Sebenarnya secara diplomasi, ratifikasi sendiri tidak tepat digunakan oleh Indonesia karena Indonesia bukan salah satu negara yang ikut menandatangani ketika Statuta Roma dideklarasikan. Menurut Deplu, Indonesia bukanlah salah satu negara penandatangan Statuta Roma. Artinya, untuk menjadi negara peserta pada Statuta Roma maka proses pengesahan yang harus ditempuh adalah aksesi bukan ratifikasi seperti yang selama ini didengungkan banyak kalangan. Walaupun dampak hukumnya sama seperti ratifikasi. Dalam UU No. 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional mengenal aksesi bersama-sama dengan ratifikasi, penerimaan dan penyetujuan sebagai metode pengesahan sebuah perjanjian internasional. Lebih lanjut pada bagian penjelasan dikatakan bahwa aksesi adalah metode pengesahan yang ditempuh apabila negara tersebut tidak turut menandatangani naskah perjanjian. Terlepas dari metodenya, bahwa pengesahan Statuta Roma tetap dipandang penting oleh pemerintah. Pengesahan Statuta Roma berarti akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pendukung utama keadilan internasional. Kontribusi Institusi Internasional seperti ICC penting karena akan melengkapi ketentuan-ketentuan nasional yang sudah ada.
PENUTUP
Semoga apa yang dicita-citakan oleh pencetus Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) Pada 10 Desember 1948, melalui Majelis Umum PBB menjadi kenyataan . Melalui deklarasi tersebut masyarakat dunia bersepakat untuk menghormati HAM berdasarkan prinsip non-diskriminasi, kesetaraan, dan pluralisme. Deklarasi ini mewajibkan semua orang memajukan penghormatan dan menjamin pelaksanaan HAM yang bersifat universal. Dalam siaran Persnya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan bahwa peringatan hari HAM menjadi momen penting untuk merefleksikan, melihat kembali, pelaksanaan HAM selama setahun. Pada tahun 2007 masih banyak terjadi pelanggaran HAM di bidang Sipil Politik (Sipol) maupun bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya (Ekosob). Di bidang Sipol masih terjadi kasus kekerasan, pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan, dan lain-lain. Di bidang Ekosob masih belum terpenuhinya hak dasar masyarakat seperti sandang, pangan, papan yang layak, hak atas kesehatan dan pendidikan yang masih terabaikan. Juga masih sering terjadi perampasan terhadap hak-hak masyarakat adat. Secara umum perkembangan HAM di Indonesia tahun 2007 masih memprihatinkan. Padahal Indonesia sudah meratifikasi dua kovenan yaitu Kovenan Sipol (Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights) dan Kovenan Ekosob (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights). Pelanggaran HAM masih saja terjadi hampir di semua bidang. Kenyataan seperti ini menunjukkan HAM masih sekadar retorika, hanya menjadi ucapan lisan yang menyenangkan, tapi praktik pelaksanaan untuk mewujudkannya masih pahit dan getir.
Daftar Pustaka
Birokrasi Anggaran Dikhawatirkan Menghambat Ratifikasi Statuta Roma, http://hukumonline.com/detail.asp?id=16685&cl=Berita, akses tanggal 10 Mei 2007
Belum Ratifikasi Statuta Roma, Tentara AS Sulit Diadili di ICC, http://hukumonline.com/detail.asp?id=7717&cl=Berita, akses tanggal 28 Maret 2003
Ratifikasi Statuta Roma Masih Diperdebatkan, http://hukumonline.com/detail.asp?id=10882&cl=Berita, akses tanggal 6 Agustus 2004
Siswanto, Arie, Yurisdiksi Material Mahkamah Kejahatan Internasional, Bogor : Ghalia Indonesia, 2005
*) Oky Widyanarko, SE
Pustakawan Universitas Surabaya
Email. oky@ubaya.ac.id
June 14, 2007 - 05:24 PM
Pustakawan Mendambakan UU Profesinya
Oleh : Oky Widyanarko
Rapat Paripurna DPR yang dihadiri wakil pemerintah Mendiknas Bambang Sudibyo dan Menhukham Andi Matalatta pada hari Selasa tanggal 2 Oktober 2007 menyetujui RUU Perpustakaan untuk disahkan menjadi Undang-Undang. Seluruh Fraksi menyatakan dukungannya terhadap RUU tersebut. Itulah babak baru perkembangan dunia perpustakaan, pustakawan dan kepustakaan di Indonesia dimulai setelah sekian lama kondisinya carut marut tanpa ada kepastian hukum yang jelas dan terintegrasi . Menurut Mendiknas, UU Perpustakaan penting untuk mengantisipasi era e-library. UU ini mengatur antara lain hak dan kewajiban warga negara terhadap perpustakaan, jenis-jenis perpustakaan, perpustakaan nasional, profesi pustakawan, pekerja perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca. UU tentang perpustakaan tersebut selanjutnya akan dijabarkan lagi pelaksanaannya dengan Peraturan Pemerintah (PP).
PUSTAKAWAN DAN ORGANISASI PROFESI
Dalam UU Perpustakaan yang baru saja disahkan, profesi pustakawan sebagai pekerja perpustakaan mulai diakui eksistensinya baik oleh pemerintah maupun masyarakat, Meskipun kita belum tahu pasti apakah nantinya dalam p